Chat In Sibuea Blog

SENI DAN INSPIRASI


http://reddragondesigns.net/
Hover Effects

HUJAN SALJU

MY FAMILY

Alm.R.SIBUEA (Father)WITH J.br.MARPAUNG (Mother) Anak 1.E.ROHANI T SIBUEA 2.HIRAS P.M.SIBUEA 3.LUNGGUK Y.SIBUEA 4.DESI P.SIBUEA 5.TEDDY P.M.SIBUEA 6.NOVITA S.SIBUEA 7.LEDY C SIBUEA 8.GOMGOM ALEXSANDRO SIBUEA

Minggu, 08 Januari 2012

Uranium Kita jangan Dilepas

Prancis  Mengeruk Uranium Melawi


Rangkuman Diskusi Pertambangan Mailing List Migas Indonesia bulan September 2006 membahas tentang pengerukan uranium Melawi oleh Perancis.

Melawi, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat  yang dimekarkan setahun silam ternyata menyimpan cerita besar. Wilayah ini memiliki kandungan uranium sekitar 24 ribu ton yang setara dengan  kebutuhan listrik sebesar 9.000 megawatt selama 125 tahun ke depan.
Namun potensi itu telah dikeruk negara lain. Prancis disebut-sebut telah menguras kandungan uranium di Desa Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Melawi. Informasi yang diperoleh Tim Sigi SCTV menyebut Prancis  masuk ke pedalaman Kalbar mendompleng Badan Tenaga Nuklir Nasional  (Batan), sejak 1973. Aktivitas dan keberadaan perusahaan yang mengeruk  kekayaan alam Melawi selama 33 tahun itu tak pernah diketahui  pemerintah setempat. Benarkah, uranium Melawi telah dicuri?

Diskusi selengkapnya dapat disimak dalam file berikut.

Pemberi Artikel : Muhammad Ari Mukhlason


Liputan6.com, Melawi: Melawi, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat  yang dimekarkan setahun silam ternyata menyimpan cerita besar. Wilayah ini memiliki kandungan uranium sekitar 24 ribu ton yang setara dengan  kebutuhan listrik sebesar 9.000 megawatt selama 125 tahun ke depan.
Namun potensi itu telah dikeruk negara lain. Prancis disebut-sebut telah menguras kandungan uranium di Desa Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Melawi. Informasi yang diperoleh Tim Sigi SCTV menyebut Prancis  masuk ke pedalaman Kalbar mendompleng Badan Tenaga Nuklir Nasional  (Batan), sejak 1973. Aktivitas dan keberadaan perusahaan yang mengeruk  kekayaan alam Melawi selama 33 tahun itu tak pernah diketahui  pemerintah setempat. Benarkah, uranium Melawi telah dicuri? Berbekal  informasi itu Tim Sigi SCTV menelisik langsung ke pedalaman Melawi,  baru-baru ini.
Desa Kalan adalah salah satu dari enam titik wilayah yang menyimpan  kandungan uranium. Lokasi eksplorasi uranium bisa dicapai melalui  jalan  sepanjang sekitar 22 kilometer dengan medan yang berat. Di tempat  itu  terdapat Pos Keamanan Batan yang menjaga lokasi penambangan bahan  pembuat bom nuklir itu.
Bersama dua mantan karyawan Komisariat Energi Atom Prancis (CEA) dan  beberapa petugas Batan, Tim Sigi SCTV menelusuri pengeboran di Desa  Kalan. Setelah mendaki hampir dua jam, tim tiba di mulut terowongan. Goa sepanjang kurang lebih 600 meter ini dibangun untuk  menghubungkan  titik-titik pengeboran uranium.
Di sekitar terowongan, sesekali didapati batu sampel uranium yang  tertutup alang-alang. Menurut mantan ahli geologi CEA Said Marjan, sampel batu tersebut berkadar uranium rendah. Sementara yang  berkadar uranium tinggi sudah raib sekitar 30 tahun silam.
Nanga Kalan dan sekitarnya hanyalah bagian kecil dari proyek raksasa eksplorasi dan eksploitasi uranium di Kalimantan. Dari luas wilayah  175  ribu kilometer persegi yang diteliti, 39 ribu kilometer persegi terbukti mengandung uranium sebesar 24.112 ton uranium. Ratusan ton  di antaranya telah diboyong ke luar negeri.
Indonesia telah kecolongan uranium. Kesadaran yang seolah terlambat datang itu kini ramai dilantangkan para tokoh masyarakat Melawi. Eksplorasi uranium di hutan Nanga Pino, Nanga Elah, dan Nanga Kalan  dilakukan selama delapan tahun sejak 1969. Eksplorasi dilakukan oleh perusahaan Prancis yang tergabung dalam CEA dengan berkerja sama  dengan Batan.
 Menurut Ketua DPRD Melawi Sukirman, ekplorasi uranium di wilayahnya menjadi sebuah proyek yang sangat misterius. "Sampai sekarang kita tak  bisa ikut mengakses ataupun memahami apa kegiatan itu," jelas Sukirman.
Sejauh ini, pihaknya hanya mengetahui penambangan itu untuk penelitian.
Lantas, ke mana larinya uranium Melawi? Seorang petugas bandar udara  di Melawi mengaku mengetahui persis uranium Melawi diangkut  orang-orang  Prancis. "Mereka kalau terbang pasti bawa sampel batu itu," ujar  pria yang enggan disebut namanya itu. Setiap pemberangkatan, orang-orang  Prancis itu membawa sampel batu tiga hingga lima kotak dengan berat  masing-masing 20-35 kilogram. Namun hal ini dibantah Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kalbar Aryanto B.H. Menurutnya, sangat tidak mungkin uranium bisa lolos  begitu  saja. "Ada regulasi yang harus dipenuhi," tambah Aryanto. Pasalnya,  uranium adalah suatu bahan galian yang memancarkan sinar alfa, beta,  dan gamma yang cukup kuat.
 Batan juga membantah jika uranium Indonesia dibawa lari ke luar negeri. Direktur Pusat Pengembangan Geologi Nuklir Batan Sanwijaya Sastratenaya menjelaskan memang ada sejumlah sampel batu uranium  untuk  diteliti di Prancis. Namun jumlahnya tak terlalu besar bahkan tak  nyaris tak berarti.
Lebih jauh, Sanwijaya menjelaskan bahwa kehadiran CEA di Kalbar adalah murni kerja sama dua negara yang berlangsung sejak 1969  hingga  1977. CEA hengkang karena Indonesia saat itu belum ingin  mengeksploitasi uraniumnya. "Kerja sama ini berakhir kurang smooth,  kurang enak," ungkap Sanwijaya. Tapi, tuntutan keterbukaan tetap saja muncul. Sukirman berharap  adanya satu koordinasi soal pengelolaan uranium di Melawi. "Daerah paling tidak mengetahui," tambah Sukirman. Demikian juga dengan  pembangunan saran dan prasara wilayah ke daerah eksplorasi seperti  jalan.
 Hal ini tampaknya sulit dipenuhi. Batan menyebut kewenangan atas urusan barang strategis seperti uranium berada di tangan pemerintah  pusat. Meski demikian, Sanwijaya mengaku lembaganya menyimpan 740 kg  uranium asal Melawi untuk bahan penelitian. "Sebanyak 200 kilogram  itu kita simpan di sini [Jakarta] sisanya kita kirim ke pusat Batan di  Yogyakarta," jelas Sanwijaya.
Pemerintah saat ini memang tengah mengkaji kemungkinan memanfaatkan  uranium sebagai alternatif energi untuk memenuhi kebutuhan listrik  di masa mendatang. Namun Batan belum terpikir untuk mengeksploitasi uranium di Melawi. Sebab, keperluan uranium dalam negeri untuk tiga  reaktor yang terdapat di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong belum  terlampau besar. "Tidak masuk akal konsumsi yang begitu [sedikit]  kita  harus menambang, jelas Kepala Batan Soedyartomo Soentono sambil menambahkan bahwa uranium banyak dijual di pasar internasional dengan  harga murah.
 Terlepas dari semua ini, menjaga uranium untuk kebutuhan energi  sangatlah penting dilakukan. Namun jauh lebih penting lagi untuk  memagari uranium Indonesia agar tidak dicolong dan digunakan untuk  merusak perdamaian dunia. Apalagi Indonesia adalah salah satu penandatangan konsensus internasional uranium untuk perdamaian.(TOZ)


Tanggapan 1 : Priyo Pribadi Soemarno

Mas Muhammad Ari Yth.,

Banyak informasi2 yang kurang lengkap yang beredar tentang dunia mineral  dan industri pertambangan . Termasuk diantaranya pernyataan seorang Prof.  tentang "Emas dan Uranium yang digelontorkan dari Puncak Gunung di Papua  melalui pipa berdiameter besar langsung ke laut yang ditunggu oleh kapal  (selam ,...?) untuk diselundupkan ke luarnegeri" ,...

Menurut saya pendapat pak Aryanto B. Hadigaloeh Kepala Dinas Pertambangan  Kalbar) adalah benar , karena uranium terdapat di alam dalam bentuk  batuan yang mengandung mineral radioaktif , belum di 'ekstraks' .  Meskipun demikian sudah punya "energi atom" yang cukup kuat untuk  membuat tubuh kita panas dingin dan lemes setengah mati . Jadi , kalau eksplorer Perancis yang bekerja disana mengambil batuan  tersebut , tentunya baru conto2 batuan untuk di analisa secara detail di  laboratorium mereka di Perancis . Di Indonesia khan belum ada yang bisa  meng analisa secara detail . Kalau sampai ratusan ton , rasanya , bisa  diperiksa di dokumen pengiriman banrang mereka ,.. atau di Sucofindo ,  atau di pelabuhan tempat mereka mengirim conto . Kalau diselundupkan  liwat pesawat ,.... lha mesti konangan di scan X'ray .

Ahli2 Indonesia ,.... pada kemana tuh ahli2 eksplorasi khususnya mineral  radioaktif ,..? Kalau menurut wajarnya , setiap survai pasti ada  pendampingnya , yaitu insinyur Indonesia yang ngerti mineral juga tahan  uji naik2 gunung membawa batuan radioaktif .
Yang paling kompeten , tentunya Kepala dinas Pertambangan dan BATAN  untuk bisa menjawab .
Jadi , jangan terburu-buru menganggap kita ini di bodoh2i oleh orang  asing . Wong kita memang belum ngerti .

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More